Camping… Melatih Kemandirian Anak

Mengapa anak perlu mandiri? Kemandirian akan membuat anak bisa menjalani kehidupan di masa dewasanya kelak dengan lebih baik. Anak yang mandiri akan mampu mengambil keputusan tepat ketika dihadapkan kepada berbagai masalah atau tantangan. Karenanya, kemandirian perlu dilatihkan sejak anak berusia dini. Bagaimana caranya?

Berlatih Lewat Camping

Akhir minggu telah tiba. Sisi dan Aurel menginap di rumah Alda, tetangga mereka. Anak-anak yang duduk di kelas 4 SD itu berencana untuk camping di halaman rumah Alda. Walaupun hanya di halaman rumah, suasana camping sangat berbeda dengan suasana di rumah. Semua fasilitas, pasti, serba terbatas. Suasana baru dengan fasilitas terbatas ini secara langsung akan melatih keberanian dan kemandirian pada anak.  

Mereka sangat bersemangat dengan rencana ini. Berbagai peralatan camping, seperti tenda, kompor barbeque mini, juga sleeping bag sudah mereka siapkan. Mau ngapain aja mereka dari sore hingga besok pagi, sudah mereka susun daftarnya. Berbagai jenis bahan makanan untuk acara barbeque malam ini, termasuk marshmallow yang manis legit itu; juga sudah Alda beli bersama ibunya tadi siang.

Dari dalam rumah, ibu dan ayah mengamati Alda dan teman-temannya yang sedang asyik bercanda sambil membakar jagung di perapian. “Alda sudah besar ya…,” gumam ayah. Sejak Alda kecil, mereka memang sudah sering camping di halaman rumah. Ibu dan ayah percaya bahwa kegiatan camping bisa melatih kemandirian anak. Paling tidak; untuk sesaat anak belajar mengurus dirinya sendiri, lepas dari orang tuanya. Untuk sesaat, mereka bebas melakukan apa pun yang ingin mereka lakukan bersama teman-temannya.

Mengatur Diri Sendiri dan Mengatasi Masalah

Jam di dalam rumah berdentang sembilan kali, pertanda waktu sudah menunjukkan pukul 21.00. Sementara Sisi dan Aurel mencuci peralatan bekas mereka makan dan membersihkan sampah-sampah yang tersisa, di dalam tenda Alda menyiapkan sleeping bags untuk mereka bertiga. Disiapkannya juga, obat anti nyamuk untuk mereka pakai. “Si, nanti kamu tidur di pinggir kiri, ya. Aurel di tengah, aku di kanan,” ujar Alda kepada teman-temannya. “Okay,” jawab Sisi dan Aurel berbarengan.

Ketika mereka sudah siap untuk tidur, ternyata lampu yang mereka pakai untuk menerangi tenda, mati. Setelah mencoba berkali-kali melepas dan memasang kembali baterainya, lampu tetap tidak bisa menyala. “Kita pasang lilin aja di luar tenda yuk,” usul Sisi yang segera disetujui oleh kedua temannya. Mereka pun tertidur.

Alda terbangun dalam suasana gelap gulita. Ternyata.. lilin yang mereka pasang sudah mati. Alda kebelet mau pipis. Ia membuka tenda… tetapi ragu mau melangkah ke luar karena di luar gelap. Ia takut.

Untung, ibu membekali Alda dengan walkie-talkie. Segera ia menekan tombol walkie-talkie itu. “Ayah…,” ujarnya. “Ada apa Alda?” suara ayah di seberang sana melegakan hatinya. “Alda mau pipis, Ayah,” jawabnya.

Untung Ada Walkie-talkie

Ketika sore tadi mau memulai acara camping, ibu meminta handphone Alda dan menggantinya dengan sebuah walkie-talkie. “Sebaiknya semua handphone Ibu simpan ya. Jadi kalian bisa asyik ngobrol dan nggak sibuk main handphone sendiri-sendiri,” ujar ibu.

Walkie-talkie bermerek TalkAbout T42 itu memang baru mereka beli beberapa hari yang lalu. “Di area tempat tinggal kami sinyalnya memang kurang baik. Jadi, untuk memudahkan komunikasi, saya beli walkie-talkie ini. Kebetulan Alda mau camping sama teman-temannya, jadi pas deh!” ujar ayah Alda.

“Alda suka warna merahnya,” ujar Alda ketika ditanya apakah ia menyukai walkie-talkie yang baru dibeli ayahnya itu. “Ukurannya juga pas banget,” tambah Alda.

Sementara, bagi ibu Alda yang lebih penting adalah fungsi dari walkie-talkie itu. “Alda cenderung nggak bisa lepas dari handphone-nya. Apalagi kalau sedang libur seperti di akhir minggu. Kalau belum ditegur, ia terus asyik sama handphone-nya,” cerita Ibu. “Ia excited lho dengan walkie-talkie barunya. Mungkin ‘sensasi’ ngobrol pakai walkie-talkie berbeda ya dengan ngobrol pakai handphone ya,” kata Ibu lagi. Menurut Ibu, tadi siang Alda, yang sedang menyiapkan bahan-bahan makanan di dapur bersama ibunya, kelihatan seru sekali berkoordinasi menggunakan walkie-talkie dengan teman-temannya yang sedang mendirikan tenda bersama ayah Alda di halaman rumah.

Jadi, tunggu apa lagi? Selama ini mungkin interaksi dan komunikasi Anda dan si kecil agak terganggu karena masing-masing sibuk dengan gadget masing-masing. Sekarang, Jadikan TalkAbout T42 sebagai bagian dari kehidupan keluarga Anda sehari-hari. Pastikan alat ini tersedia di rumah agar anggota keluarga bisa tetap terhubung satu dengan yang lainnya; baik di dalam rumah maupun ketika Anda sekeluarga sedang berkegiatan di luar rumah. Penggunaannya yang mudah, jangkauannya yang luas (sampai radius 4 km), dan murah (karena tidak harus membayar pulsa!) membuat perangkat yang satu ini layak dipertimbangkan sebagai alat komunikasi baru di dalam keluarga. Simple, easy, and fun!

#Camping #petualangananak #alam